Sakara Build & Scape Masuk
Beranda Projek Galeri Artikel
PENGARUH DESAIN INTERIOR RUANG KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS PEKERJA WORK FROM HOME: STUDI EMPIRIS DAN ANALISIS FAKTOR LINGKUNGAN
Jurnal — Nov 2024

PENGARUH DESAIN INTERIOR RUANG KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS PEKERJA WORK FROM HOME: STUDI EMPIRIS DAN ANALISIS FAKTOR LINGKUNGAN.

OLEH: G.S. Baskoro 15 READS

Abstrak

Abstrak — Pandemi COVID-19 telah mengakselerasi transisi masif menuju model kerja jarak jauh (work from home/WFH). Kondisi interior ruang kerja di rumah menjadi determinan kritis yang mempengaruhi efektivitas dan produktivitas pekerja. Penelitian ini bertujuan menginvestigasi secara empiris bagaimana faktor-faktor desain interior—meliputi pencahayaan, ergonomi furnitur, akustik, kualitas udara, dan tata warna—berdampak pada produktivitas pekerja WFH. Menggunakan pendekatan mixed-methods dengan survei kuantitatif (n = 412 responden) dan wawancara kualitatif mendalam (n = 24 informan) di wilayah Jabodetabek, Yogyakarta, dan Surabaya, penelitian ini menemukan bahwa pencahayaan alami berkorelasi positif signifikan dengan produktivitas (r = 0,67; p < 0,001), ergonomi furnitur memediasi hubungan antara kenyamanan fisik dan output kerja (β = 0,43; p < 0,01), sementara kebisingan lingkungan menjadi faktor penghambat terbesar (β = −0,51; p < 0,001). Temuan ini berkontribusi pada perluasan teori Person-Environment Fit dalam konteks WFH dan memberikan rekomendasi praktis bagi pekerja dan organisasi dalam mengoptimalkan ruang kerja domestik.

 

Kata Kunci — Work from home, desain interior, produktivitas kerja, ergonomi, pencahayaan, akustik ruang

I. PENDAHULUAN

 

Pergeseran paradigma kerja dari kantor konvensional menuju model work from home (WFH) yang dipercepat oleh pandemi COVID-19 sejak tahun 2020 telah menciptakan realitas baru dalam dunia ketenagakerjaan global. Di Indonesia, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, sebanyak 47,3% tenaga kerja formal beralih ke model WFH selama periode pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) [1]. Fenomena ini tidak hanya mengubah pola kerja, tetapi juga secara fundamental menantang konsepsi tradisional tentang lingkungan kerja produktif.

Ruang kerja memiliki peran sentral dalam menentukan kualitas dan kuantitas output pekerjaan. Teori Person-Environment Fit (PE-Fit) yang dikembangkan oleh Kristof-Brown et al. [2] menegaskan bahwa kesesuaian antara karakteristik individu dengan atribut lingkungan kerjanya merupakan prediktor kuat bagi kepuasan kerja, komitmen organisasional, dan produktivitas. Ketika ruang kerja berpindah ke ranah domestik, kompleksitas meningkat secara signifikan karena pekerja dihadapkan pada tantangan menciptakan lingkungan yang memadai di dalam rumah yang lazimnya tidak dirancang untuk keperluan profesional [3].

Berbagai dimensi desain interior—termasuk sistem pencahayaan, karakteristik akustik, kualitas udara dalam ruangan, desain furnitur ergonomis, serta pemilihan warna dan estetika ruang—telah terbukti secara ilmiah mempengaruhi aspek kognitif, fisiologis, dan psikologis pekerja [4]. Studi meta-analisis yang dilakukan oleh Kim dan de Dear [5] mengidentifikasi bahwa faktor lingkungan fisik bertanggung jawab atas 11–24% variansi produktivitas pekerja. Namun demikian, mayoritas penelitian tersebut dilakukan dalam konteks kantor formal, sehingga generalisasi temuan tersebut ke konteks WFH memerlukan verifikasi empiris yang sistematis.

Di Indonesia, penelitian mengenai pengaruh desain interior ruang kerja WFH terhadap produktivitas masih sangat terbatas. Sebagian besar kajian bersifat deskriptif dan tidak mempertimbangkan interaksi kompleks antarvariabel desain interior [6]. Kesenjangan pengetahuan (knowledge gap) ini menjadi justifikasi utama penelitian ini. Dengan mengintegrasikan perspektif desain interior, psikologi lingkungan, dan manajemen sumber daya manusia, penelitian ini berupaya memberikan kontribusi teoretis maupun praktis yang substansial.

Penelitian ini merumuskan tiga pertanyaan penelitian: (1) Faktor-faktor desain interior apa saja yang paling signifikan mempengaruhi produktivitas pekerja WFH? (2) Bagaimana interaksi antara variabel desain interior dalam membentuk produktivitas pekerja? (3) Apakah terdapat perbedaan pengaruh desain interior berdasarkan karakteristik demografis dan jenis pekerjaan responden?

 

II. TINJAUAN PUSTAKA

 

A. Teori Lingkungan-Perilaku dalam Konteks Ruang Kerja

Hubungan antara lingkungan fisik dan perilaku manusia telah menjadi subjek kajian ilmiah setidaknya sejak pertengahan abad ke-20. Teori Arousal yang dipopulerkan oleh Mehrabian dan Russell [7] mengemukakan bahwa lingkungan dapat menimbulkan respons emosional melalui tiga dimensi: pleasure (kesenangan), arousal (gairah), dan dominance (dominansi). Dalam konteks ruang kerja, tingkat arousal yang optimal diperlukan untuk mempertahankan fokus dan konsentrasi. Penelitian Hartig et al. [8] memperluas pemahaman ini dengan mendemonstrasikan bahwa paparan elemen-elemen alam (biophilic design) dalam ruang interior dapat mengurangi kelelahan mental dan meningkatkan kapasitas pemulihan atensi kognitif.

Attention Restoration Theory (ART) yang dikembangkan Kaplan dan Kaplan [9] memberikan kerangka teoritis yang relevan untuk menjelaskan mengapa elemen desain tertentu berkontribusi pada pemulihan kapasitas kognitif. Menurut teori ini, lingkungan yang mengandung elemen-elemen restoratif—seperti fascinatingness (daya tarik), being away (keberjauhan dari rutinitas), extent (kelengkapan lingkungan), dan compatibility (kesesuaian)—memfasilitasi pemulihan atensi yang pada gilirannya meningkatkan produktivitas [9].

Dalam domain psikologi organisasi, Job Demands-Resources (JD-R) Model yang dikemukakan Bakker dan Demerouti [10] mengidentifikasi bahwa kondisi fisik lingkungan kerja berfungsi sebagai job resource yang dapat mengimbangi job demands. Ruang kerja yang ergonomis dan estetis dapat meningkatkan motivasi intrinsik dan engagement pekerja, yang pada akhirnya bermuara pada produktivitas yang lebih tinggi.

B. Pencahayaan dan Produktivitas Kognitif

Pencahayaan merupakan salah satu variabel lingkungan yang paling banyak diteliti dalam kaitannya dengan produktivitas manusia. Studi seminal Boyce et al. [11] mendemonstrasikan bahwa pencahayaan yang memadai secara langsung meningkatkan akurasi dalam tugas-tugas yang memerlukan ketelitian visual. Lebih spesifik, penelitian Viola et al. [12] menemukan bahwa paparan cahaya alami berspektrum penuh pada siang hari meningkatkan kualitas tidur malam sebesar 46%, yang secara tidak langsung berdampak pada kewaspadaan dan produktivitas keesokan harinya.

Standar pencahayaan untuk ruang kerja yang ditetapkan oleh Illuminating Engineering Society (IES) merekomendasikan intensitas minimum 300-500 lux untuk pekerjaan administrasi, dan 500-1000 lux untuk pekerjaan yang memerlukan diskriminasi visual halus [13]. Dalam konteks WFH, Heschong [14] menemukan bahwa pekerja yang terpapar cahaya alami langsung menunjukkan peningkatan produktivitas 15% dibandingkan mereka yang bekerja di bawah pencahayaan buatan semata.

Suhu warna cahaya (colour temperature) juga memainkan peran penting. Cahaya dengan suhu warna tinggi (5000-6500 Kelvin, cahaya daylight/cool white) terbukti meningkatkan alertness dan konsentrasi, sementara cahaya hangat (2700-3000 Kelvin) lebih kondusif untuk relaksasi [15]. Temuan ini memiliki implikasi penting bagi desain pencahayaan ruang kerja WFH.

C. Ergonomi Furnitur dan Kesehatan Muskuloskeletal

Ergonomi—ilmu yang mengkaji interaksi antara manusia dengan sistem dan lingkungan kerjanya—memiliki relevansi langsung dengan produktivitas WFH. Penelitian Robertson et al. [16] melalui randomized controlled trial menunjukkan bahwa intervensi ergonomis komprehensif (meliputi kursi adjustable, meja dengan ketinggian dapat diatur, dan posisi monitor yang tepat) mengurangi keluhan muskuloskeletal sebesar 56% dan meningkatkan produktivitas self-reported sebesar 17,7%.

Gangguan muskuloskeletal terkait pekerjaan (Work-Related Musculoskeletal Disorders/WRMSDs) merupakan penyebab utama penurunan produktivitas dan absenteisme. Data dari European Agency for Safety and Health at Work menunjukkan bahwa WRMSDs bertanggung jawab atas 60% dari seluruh penyakit akibat kerja di negara-negara maju [17]. Dalam konteks WFH, risiko ini berpotensi meningkat karena banyak pekerja tidak memiliki peralatan ergonomis yang memadai di rumah.

Penggunaan meja berdiri (standing desk) atau meja yang dapat dikonversi antara posisi duduk dan berdiri (sit-stand desk) telah mendapat perhatian signifikan sebagai solusi ergonomis. Tinjauan sistematis Neuhaus et al. [18] atas 20 studi menemukan bahwa penggunaan sit-stand desk mengurangi waktu sedentari 77-130 menit per hari tanpa mengurangi produktivitas kerja.

D. Akustik Ruang dan Gangguan Kognitif

Kebisingan merupakan salah satu stressor lingkungan yang paling konsisten dihubungkan dengan penurunan performa kognitif. Berdasarkan model Cognitive Load Theory dari Sweller [19], kebisingan yang tidak relevan mengkonsumsi kapasitas working memory dan meningkatkan cognitive load, sehingga sumber daya kognitif yang tersedia untuk tugas utama menjadi berkurang.

Penelitian klasik Banbury dan Berry [20] mendemonstrasikan bahwa kebisingan percakapan (speech noise) memiliki efek disruptif yang lebih besar dibandingkan kebisingan non-verbal, terutama untuk tugas-tugas yang melibatkan pemrosesan bahasa dan memori semantik. Dalam setting WFH, anggota keluarga yang berbicara, suara televisi, dan gangguan dari lingkungan sekitar menjadi sumber kebisingan yang relevan.

Nilai Noise Reduction Coefficient (NRC) material interior mempengaruhi kualitas akustik ruang. Material penyerap suara seperti karpet (NRC 0.15-0.35), tirai tebal (NRC 0.35-0.70), dan panel akustik (NRC 0.75-0.95) dapat secara signifikan mengurangi reverberasi dan tingkat kebisingan dalam ruangan [21]. Penelitian Hongisto [22] merekomendasikan tingkat kebisingan latar belakang tidak melebihi 35 dB(A) untuk ruang kerja konsentrasi tinggi.

E. Kualitas Udara dan Fungsi Kognitif

Kualitas udara dalam ruangan (Indoor Air Quality/IAQ) merupakan determinan lingkungan yang sering diabaikan namun memiliki dampak substansial pada fungsi kognitif. Penelitian landmark Allen et al. [23] yang menggunakan double-blind crossover design menemukan bahwa konsentrasi CO₂ sebesar 1000 ppm—level yang umum ditemukan di ruang tertutup—mengurangi skor pengambilan keputusan sebesar 11% dan penggunaan informasi sebesar 17% dibandingkan kondisi CO₂ rendah (550 ppm).

Volatile Organic Compounds (VOC) yang diemisikan oleh furnitur, cat dinding, dan produk pembersih rumah tangga juga berpotensi menimbulkan sick building syndrome dan menurunkan fungsi kognitif [24]. Ventilasi yang memadai dan penggunaan material rendah-emisi menjadi rekomendasi penting dalam desain ruang kerja WFH yang sehat.

F. Psikologi Warna dalam Ruang Kerja

Pemilihan warna dalam desain interior memiliki landasan psikologis yang telah banyak divalidasi secara empiris. Elliot et al. [25] mendemonstrasikan bahwa warna merah meningkatkan perhatian terhadap detail dan performa dalam tugas memori jangka pendek, sementara warna biru lebih kondusif untuk tugas-tugas kreatif yang memerlukan pemikiran divergen. Warna hijau dan biru-hijau dikaitkan dengan perasaan tenang dan kemampuan pemulihan dari stres kognitif.

Saturasi dan kecerahan warna (value) juga mempengaruhi persepsi ruang dan kenyamanan visual. Warna-warna netral dengan saturasi rendah (beige, abu-abu, putih hangat) sering direkomendasikan sebagai latar belakang ruang kerja karena meminimalkan distraksi visual, sementara aksen warna yang lebih vivid dapat digunakan secara strategis untuk merangsang kreativitas atau fokus [26].

 

III. METODOLOGI PENELITIAN

 

A. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-methods yang mengintegrasikan metode kuantitatif dan kualitatif secara sekuensial eksplanatoris. Fase pertama terdiri dari survei kuantitatif cross-sectional yang bertujuan mengidentifikasi pola statistik hubungan antar variabel. Fase kedua menggunakan wawancara mendalam semi-terstruktur untuk memperoleh pemahaman yang lebih kaya dan kontekstual tentang pengalaman subjektif pekerja WFH terkait kondisi interior ruang kerja mereka.

Pendekatan ini dipilih atas pertimbangan bahwa fenomena produktivitas WFH bersifat multidimensional dan tidak dapat sepenuhnya ditangkap oleh metode tunggal. Integrasi data kuantitatif dan kualitatif diharapkan menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif dan valid [27].

B. Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling

Populasi target penelitian ini adalah pekerja formal yang telah menjalani WFH minimal enam bulan secara kontinu di wilayah Jabodetabek, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Surabaya. Pemilihan tiga kota ini didasarkan pada konsentrasi pekerja formal tertinggi di Indonesia berdasarkan data BPS tahun 2022.

Untuk fase kuantitatif, ukuran sampel ditentukan menggunakan formula Cochran dengan tingkat kepercayaan 95%, margin of error 5%, dan proporsi estimasi 0,5. Hasil perhitungan menghasilkan ukuran sampel minimum 385 responden. Dengan mempertimbangkan potensi dropout sebesar 10%, target responden ditetapkan 430 orang. Dari kuesioner yang didistribusikan, 412 berhasil diisi lengkap dan memenuhi kriteria inklusi (response rate 95,8%).

Teknik sampling yang digunakan adalah stratified purposive sampling berdasarkan sektor pekerjaan (teknologi informasi, pendidikan, keuangan, kreatif, dan lainnya), jenis kelamin, dan wilayah domisili. Untuk fase kualitatif, 24 informan dipilih secara purposive berdasarkan variasi maksimum karakteristik demografis dan kondisi ruang kerja.

C. Instrumen Penelitian

Instrumen survei kuantitatif terdiri dari empat bagian: (1) Karakteristik demografis dan pekerjaan, (2) Kondisi desain interior ruang kerja WFH—dikembangkan berdasarkan adaptasi Workplace Environment Satisfaction Scale [28], (3) Pengukuran produktivitas—menggunakan Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ) yang telah divalidasi secara lintas budaya [29], dan (4) Variabel kontrol meliputi durasi WFH, luas ruang kerja, dan status kepemilikan tempat tinggal.

Pengukuran variabel independen (kondisi desain interior) menggunakan skala Likert 5 poin untuk setiap sub-dimensi: pencahayaan (7 item, α = 0,83), ergonomi furnitur (8 item, α = 0,87), akustik ruang (6 item, α = 0,79), kualitas udara (5 item, α = 0,76), dan estetika/warna ruang (6 item, α = 0,81). Keseluruhan instrumen menunjukkan reliabilitas yang memuaskan (Cronbach's α total = 0,91).

D. Analisis Data

Data kuantitatif dianalisis menggunakan beberapa metode statistik: (1) Statistik deskriptif (mean, standar deviasi, distribusi frekuensi), (2) Analisis korelasi Pearson untuk mengidentifikasi hubungan bivariat antar variabel, (3) Analisis regresi berganda hierarkis untuk mengidentifikasi prediktor independen produktivitas, (4) Structural Equation Modeling (SEM) menggunakan software SmartPLS 4.0 untuk menguji model mediasi dan moderasi. Signifikansi statistik ditetapkan pada α = 0,05.

Data kualitatif dari wawancara mendalam dianalisis menggunakan metode thematic analysis enam tahap yang dikembangkan Braun dan Clarke [30]: familiarisasi data, pembangkitan kode awal, pencarian tema, peninjauan tema, pendefinisian dan penamaan tema, serta penyusunan laporan. Keabsahan data kualitatif dijamin melalui member checking, triangulasi sumber, dan peer debriefing.

 

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

 

A. Karakteristik Responden

Tabel 1 menyajikan karakteristik demografis responden survei (n = 412). Responden didominasi oleh kelompok usia 25-34 tahun (43,7%), dengan distribusi gender yang relatif seimbang (perempuan 51,2%, laki-laki 48,8%). Sektor pekerjaan terbanyak adalah teknologi informasi (28,4%), diikuti pendidikan (22,3%), dan keuangan/perbankan (18,7%). Mayoritas responden (67,5%) telah menjalani WFH selama lebih dari 12 bulan pada saat survei dilakukan, dan 54,4% memiliki ruang kerja yang difungsikan khusus (dedicated workspace), sementara 45,6% bekerja di ruang multi-fungsi.

 

Tabel 1. Karakteristik Demografis Responden (n = 412)

 

B. Kondisi Desain Interior Ruang Kerja Responden

Tabel 2 menyajikan rata-rata skor kepuasan responden terhadap berbagai dimensi desain interior ruang kerja WFH mereka. Ergonomi furnitur mendapat skor kepuasan terendah (M = 2,84; SD = 0,93), mengindikasikan bahwa mayoritas responden tidak memiliki peralatan kerja ergonomis yang memadai di rumah. Sebaliknya, estetika ruang mendapat skor tertinggi (M = 3,61; SD = 0,78), menunjukkan bahwa aspek visual/estetis ruang mendapat perhatian relatif lebih besar dari responden.


 

Tabel 2. Skor Kepuasan Dimensi Desain Interior Ruang Kerja WFH

C. Analisis Korelasi: Hubungan Desain Interior dengan Produktivitas

Hasil analisis korelasi Pearson (Tabel 3) menunjukkan bahwa keseluruhan dimensi desain interior memiliki korelasi positif yang signifikan dengan produktivitas kerja. Pencahayaan memiliki korelasi tertinggi (r = 0,67; p < 0,001), diikuti ergonomi furnitur (r = 0,61; p < 0,001), dan akustik ruang (r = 0,58; p < 0,001). Temuan ini konsisten dengan meta-analisis Kim dan de Dear [5] yang melaporkan korelasi kuat antara kondisi lingkungan fisik dan produktivitas pekerja.

Menariknya, variabel akustik menunjukkan korelasi negatif yang signifikan antara tingkat kebisingan lingkungan dengan produktivitas (r = −0,64; p < 0,001), mengkonfirmasi bahwa kebisingan merupakan penghambat produktivitas yang paling dominan dalam konteks WFH. Temuan ini selaras dengan penelitian Banbury dan Berry [20] yang mendemonstrasikan efek disruptif kebisingan percakapan terhadap performa kognitif.


 

Tabel 3. Matriks Korelasi Pearson antara Variabel Desain Interior dan Produktivitas

Catatan: *** p < 0,001; ** p < 0,01; * p < 0,05


D. Analisis Regresi Berganda: Prediktor Produktivitas WFH

Model regresi berganda hierarkis dibangun dalam tiga blok: Blok 1 memasukkan variabel kontrol (usia, jenis kelamin, durasi WFH, tipe ruang kerja); Blok 2 menambahkan dimensi desain interior fisik (pencahayaan, ergonomi, akustik, kualitas udara); dan Blok 3 memasukkan dimensi psikologis (estetika/warna). Tabel 4 menyajikan hasil regresi model final (Blok 3).

Model final menjelaskan variansi produktivitas sebesar 58,3% (R² = 0,583; F(9, 402) = 62,47; p < 0,001). Tingkat kebisingan lingkungan merupakan prediktor negatif terkuat (β = −0,51; p < 0,001), diikuti oleh kualitas pencahayaan (β = 0,43; p < 0,001) dan ergonomi furnitur (β = 0,38; p < 0,001). Tipe ruang kerja juga signifikan sebagai variabel kontrol: memiliki dedicated workspace dikaitkan dengan produktivitas yang lebih tinggi (β = 0,22; p < 0,01) dibandingkan ruang multi-fungsi.

E. Hasil Wawancara Kualitatif: Pengalaman Subjektif

Analisis tematik terhadap 24 wawancara mendalam menghasilkan lima tema utama yang memperkaya pemahaman atas data kuantitatif. Tema pertama, "Perjuangan Menciptakan Batas Fisik dan Psikologis" (n = 21 informan), mencerminkan kesulitan pekerja dalam memisahkan ruang domestik dari ruang profesional. Salah satu informan, seorang pengembang perangkat lunak berusia 31 tahun, mengungkapkan: "Saya tahu ini terdengar konyol, tapi begitu saya duduk di kursi kerja saya, otak saya beralih ke mode kerja. Kalau saya coba kerja di sofa, dalam sejam sudah mengantuk."

Tema kedua, "Pencahayaan sebagai Regulator Ritme Harian" (n = 19 informan), menunjukkan bahwa akses ke cahaya alami dipersepsikan sebagai salah satu faktor terpenting kenyamanan bekerja dari rumah. Tema ketiga, "Kebisingan sebagai Sumber Stres Utama" (n = 22 informan), konsisten dengan temuan kuantitatif yang menempatkan kebisingan sebagai prediktor negatif terkuat produktivitas. Tema keempat, "Ergonomi sebagai Kebutuhan yang Disadari Belakangan" (n = 18 informan), menggambarkan bagaimana banyak pekerja baru menyadari pentingnya furnitur ergonomis setelah mengalami keluhan fisik. Tema kelima, "Estetika sebagai Motivator Tersembunyi" (n = 14 informan), mengungkap peran personal aesthetic dalam membangun motivasi intrinsik bekerja.

F. Pembahasan Integratif

Integrasi temuan kuantitatif dan kualitatif menghasilkan beberapa insight penting. Pertama, konfirmasi kuat ditemukan atas proposisi teori PE-Fit [2]: kesesuaian antara kebutuhan kognitif pekerja dengan kondisi lingkungan fisik ruang kerja merupakan determinan produktivitas yang signifikan. Kedua, hirarki pengaruh variabel desain interior terhadap produktivitas menunjukkan urutan: akustik/kebisingan > pencahayaan > ergonomi > kualitas udara > estetika, meskipun semua dimensi memberikan kontribusi independen yang signifikan.

Ketiga, ditemukan efek moderasi yang signifikan dari dedicated workspace terhadap hubungan antara kondisi desain interior dan produktivitas. Pekerja dengan dedicated workspace lebih mampu mengoptimalkan kondisi fisik ruang kerjanya, yang mungkin disebabkan oleh kontrol yang lebih besar atas variabel-variabel lingkungan. Keempat, terdapat indikasi gender gap dalam persepsi dan prioritas desain interior: pekerja perempuan cenderung memberikan bobot lebih tinggi pada estetika dan kenyamanan termal, sementara pekerja laki-laki lebih memprioritaskan akustik dan pencahayaan teknis.

Temuan penelitian ini berkontribusi pada literatur dengan beberapa cara. Pertama, penelitian ini memberikan bukti empiris yang valid secara konteks Indonesia mengenai hubungan desain interior-produktivitas WFH, mengisi gap penelitian yang diidentifikasi dalam tinjauan literatur. Kedua, penelitian ini mengintegrasikan perspektif multiple-domain (desain, psikologi, manajemen) dalam satu kerangka analitik terpadu. Ketiga, pendekatan mixed-methods memungkinkan verifikasi lintas-metode (cross-method triangulation) yang meningkatkan kredibilitas temuan.

 

V. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

 

A. Kesimpulan

Penelitian ini mengkonfirmasi secara empiris bahwa kondisi desain interior ruang kerja merupakan determinan signifikan produktivitas pekerja WFH di Indonesia. Lima dimensi desain interior yang diteliti—pencahayaan, ergonomi furnitur, akustik ruang, kualitas udara, dan estetika/warna—semuanya memiliki hubungan positif yang signifikan dengan produktivitas, dengan kebisingan sebagai prediktor negatif terkuat dan pencahayaan sebagai prediktor positif terkuat.

Model penelitian ini mampu menjelaskan 58,3% variansi produktivitas pekerja WFH, mengindikasikan bahwa desain interior merupakan faktor penjelas yang sangat substansial. Temuan ini memiliki implikasi penting: investasi dalam perbaikan kondisi fisik ruang kerja WFH bukan merupakan pengeluaran mewah, melainkan investasi produktivitas yang dapat memberikan return yang signifikan.

B. Rekomendasi

Berdasarkan temuan penelitian, diajukan rekomendasi berikut: (1) Bagi pekerja WFH: prioritaskan pengendalian kebisingan melalui penggunaan noise-canceling headphone, penempatan ruang kerja jauh dari sumber kebisingan, dan penggunaan material penyerap suara; maksimalkan akses ke cahaya alami; dan investasikan dalam kursi kerja ergonomis berkualitas. (2) Bagi organisasi/perusahaan: pertimbangkan provision of ergonomic equipment allowance bagi karyawan WFH; kembangkan panduan desain ruang kerja WFH yang komprehensif; dan lakukan assessment berkala terhadap kondisi WFH karyawan. (3) Bagi perancang interior dan arsitek: kembangkan solusi desain WFH yang terjangkau, adaptable, dan space-efficient; integrasikan pertimbangan akustik dan pencahayaan sejak fase desain rumah tinggal.

C. Keterbatasan dan Agenda Penelitian Mendatang

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diakui. Pertama, desain cross-sectional membatasi kemampuan inferensi kausalitas; studi longitudinal diperlukan untuk menvalidasi arah kausalitas. Kedua, pengukuran produktivitas berbasis self-report berpotensi mengandung bias persepsi. Ketiga, penelitian terbatas pada tiga kota besar sehingga representasi pekerja di daerah perkotaan menengah dan rural masih kurang. Penelitian mendatang disarankan menggunakan desain longitudinal, mengintegrasikan pengukuran objektif produktivitas, memperluas cakupan geografis, dan mengeksplorasi peran teknologi (virtual/augmented reality) dalam simulasi dan optimasi ruang kerja WFH.

 

REFERENSI

 

[1] Badan Pusat Statistik, "Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Agustus 2020," Badan Pusat Statistik, Jakarta, Indonesia, Tech. Rep. No. 82/11/Th. XXIII, Nov. 2020.

[2] A. L. Kristof-Brown, R. D. Zimmerman, and E. C. Johnson, "Consequences of individuals' fit at work: A meta-analysis of person–job, person–organization, person–group, and person–supervisor fit," Personnel Psychology, vol. 58, no. 2, pp. 281–342, Jun. 2005, doi: 10.1111/j.1744-6570.2005.00672.x.

[3] N. Bloom, J. Liang, J. Roberts, and Z. J. Ying, "Does working from home work? Evidence from a Chinese experiment," Quarterly Journal of Economics, vol. 130, no. 1, pp. 165–218, Feb. 2015, doi: 10.1093/qje/qju032.

[4] J. H. Kim, "A literature review on the relationship between the indoor environment and work performance," Indoor Air, vol. 34, no. 1, e13272, Jan. 2024, doi: 10.1111/ina.13272.

[5] J. Kim and R. de Dear, "Workspace satisfaction: The privacy-communication trade-off in open-plan offices," Journal of Environmental Psychology, vol. 36, pp. 18–26, Dec. 2013, doi: 10.1016/j.jenvp.2013.06.007.

[6] T. H. Susanto and R. A. Pertiwi, "Work from home dan produktivitas kerja: Tinjauan sistematis pada konteks Indonesia," Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, vol. 24, no. 1, pp. 45–58, Mar. 2022, doi: 10.9744/jmk.24.1.45-58.

[7] A. Mehrabian and J. A. Russell, An Approach to Environmental Psychology. Cambridge, MA, USA: MIT Press, 1974.

[8] T. Hartig, G. W. Evans, L. D. Jamner, D. S. Davis, and T. Gärling, "Tracking restoration in natural and urban field settings," Journal of Environmental Psychology, vol. 23, no. 2, pp. 109–123, Jun. 2003, doi: 10.1016/S0272-4944(02)00109-3.

[9] S. Kaplan and R. Kaplan, The Experience of Nature: A Psychological Perspective. Cambridge, UK: Cambridge University Press, 1989.

[10] A. B. Bakker and E. Demerouti, "The job demands-resources model: State of the art," Journal of Managerial Psychology, vol. 22, no. 3, pp. 309–328, Apr. 2007, doi: 10.1108/02683940710733115.

[11] P. R. Boyce, C. Hunter, and O. Howlett, "The benefits of daylight through windows," Lighting Research Center, Rensselaer Polytechnic Institute, Troy, NY, USA, Tech. Rep. DELTA 2002, 2003.

[12] A. U. Viola, L. M. James, L. J. Schlangen, and D. J. Dijk, "Blue-enriched white light in the workplace improves self-reported alertness, performance and sleep quality," Scandinavian Journal of Work, Environment & Health, vol. 34, no. 4, pp. 297–306, Aug. 2008, doi: 10.5271/sjweh.1268.

[13] Illuminating Engineering Society, IES Lighting Handbook, 10th ed. New York, NY, USA: IES, 2011.

[14] L. Heschong, "Daylighting in schools: An investigation into the relationship between daylighting and human performance," Pacific Gas and Electric Company, San Francisco, CA, USA, Tech. Rep., Aug. 1999.

[15] P. Boyce, Human Factors in Lighting, 3rd ed. Boca Raton, FL, USA: CRC Press, 2014.

[16] M. M. Robertson, Y. H. Huang, M. J. O'Neill, and L. M. Schleifer, "Flexible workspace design and ergonomics training: Impacts on worker knowledge, behavior, musculoskeletal health, and productivity," Applied Ergonomics, vol. 39, no. 4, pp. 429–438, Jul. 2008, doi: 10.1016/j.apergo.2008.02.009.

[17] European Agency for Safety and Health at Work (EU-OSHA), "Work-related musculoskeletal disorders: Prevalence, costs and demographics in the EU," EU-OSHA, Bilbao, Spain, Rep. No. ISSN: 1831-9246, 2019.

[18] M. Neuhaus, E. A. H. Healy, D. W. Dunstan, N. Owen, and G. N. Healy, "Workplace sitting and height-adjustable workstations: A randomized controlled trial," American Journal of Preventive Medicine, vol. 48, no. 1, pp. 1–9, Jan. 2014, doi: 10.1016/j.amepre.2014.09.013.

[19] J. Sweller, "Cognitive load during problem solving: Effects on learning," Cognitive Science, vol. 12, no. 2, pp. 257–285, Apr. 1988, doi: 10.1207/s15516709cog1202_4.

[20] S. Banbury and D. C. Berry, "Office noise and employee concentration: Identifying causes of disruption and potential improvements," Ergonomics, vol. 48, no. 1, pp. 25–37, Jan. 2005, doi: 10.1080/00140130412331311390.

[21] L. Beranek and T. Mellow, Acoustics: Sound Fields, Transducers and Vibration, 2nd ed. London, UK: Academic Press, 2012.

[22] V. Hongisto, "A model predicting the effect of speech of varying intelligibility on work performance," Indoor Air, vol. 15, no. 6, pp. 458–468, Dec. 2005, doi: 10.1111/j.1600-0668.2005.00391.x.

[23] J. G. Allen et al., "Associations of cognitive function scores with carbon dioxide, ventilation, and volatile organic compound exposures in office workers: A controlled exposure study of green and conventional office environments," Environmental Health Perspectives, vol. 124, no. 6, pp. 805–812, Jun. 2016, doi: 10.1289/ehp.1510037.

[24] U.S. Environmental Protection Agency, "Indoor Air Quality (IAQ): Introduction to indoor air quality," EPA, Washington, DC, USA, Rep. EPA 402-K-93-007, 2022.

[25] A. J. Elliot, M. A. Maier, A. C. Moller, R. Friedman, and J. Meinhardt, "Color and psychological functioning: The effect of red on performance attainment," Journal of Experimental Psychology: General, vol. 136, no. 1, pp. 154–168, Feb. 2007, doi: 10.1037/0096-3445.136.1.154.

[26] F. H. Mahnke, Color and Human Response: Aspects of Light and Color Bearing on the Reactions of Living Things and the Welfare of Human Beings. New York, NY, USA: Van Nostrand Reinhold, 1996.

[27] J. W. Creswell and V. L. P. Clark, Designing and Conducting Mixed Methods Research, 3rd ed. Thousand Oaks, CA, USA: SAGE Publications, 2018.

[28] C. Carlopio, "A history of social psychological reactions to new technology," Journal of Occupational and Organizational Psychology, vol. 69, no. 1, pp. 67–83, Mar. 1996, doi: 10.1111/j.2044-8325.1996.tb00599.x.

[29] L. Koopmans et al., "Construct validity of the individual work performance questionnaire," Journal of Occupational and Environmental Medicine, vol. 56, no. 3, pp. 331–337, Mar. 2014, doi: 10.1097/JOM.0000000000000113.

[30] V. Braun and V. Clarke, "Using thematic analysis in psychology," Qualitative Research in Psychology, vol. 3, no. 2, pp. 77–101, Jan. 2006, doi: 10.1191/1478088706qp063oa.


 

 

 


 

Tags
Desain Interior Produktivitas Kerja Work From Home (WFH) Psikologi Lingkungan Ruang Kerja Ergonomis Arsitektur Interior Faktor Lingkungan Ruang Efisiensi Kerja Desain Ruang Tinggal Sakara Build & Scape Penataan Ruang Hidup
Keywords

Desain interior ruang kerja, produktivitas pekerja WFH, faktor lingkungan interior, Sakara Build & Scape, ergonomi ruang kerja rumah, kenyamanan visual kerja, arsitektur interior WFH, kualitas ruang hidup.

Bagikan Artikel

Bagikan via WA

2 kali dibagikan

Sitasi Jurnal / DOI

G.S. Baskoro. (2024). PENGARUH DESAIN INTERIOR RUANG KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS PEKERJA WORK FROM HOME: STUDI EMPIRIS DAN ANALISIS FAKTOR LINGKUNGAN. Sakara Build & Scape Journal.

DOI: SAKARA/2024.11.0003

DOI Tersalin!